Tampilkan postingan dengan label j50k. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label j50k. Tampilkan semua postingan

Jumat, 06 Januari 2012

Me vs TBC [Part 7]

Hari Bersejarah 

Melanjutkan rencana senang-senang hari itu, sindikat TBC melanjutkan acara nongkrong dengan acara karaoke. Makan siang bisa ditunda, karena kebetulan nih, perut juga udah penuh dan mulut udah nggak sabar pengen bernyanyi.
Menunggu giliran untuk dapat masuk dalam ruangan karaoke - yang konon bisa membuat orang menunjukkan dirinya sendiri - adalah hal yang sedikit menyebalkan. Tetapi tentu saja kehadiran makhluk-makhluk heboh adalah pembunuh waktu yang ajaib.
Ruangan karaoke, siapa yang punya ide buat hal beginian? Penasaran, aku mencari faktanya lewat bantuan mbah google. Jepang? Oke, mari lanjutkan membaca. Karaoke berasal dari bahasa Jepang, yaitu: kara (yang berarti tangan kosong) dan okesutora (orkestra). Jadi, maksudnya karaoke adalah orkestra kosong, hanya musik dan yang nggak seperti umumnya pertunjukan musik. Orang memang diharuskan memegang mikrofon dan mengikuti kata-kata pada tampilan layar atau buku.
Perlengkapan karaoke (ilustrasi by google)

Uniknya ya, menurutku karaoke nggak hanya sekedar menyanyikan lagu dengan baik, tapi seperti yang aku bilang tadi: ajang menunjukkan diri sendiri. Ruangan kecil yang tertutup dan katanya sih kedap suara (tapi kok ada suara yang keluar juga), bernuansa sedikit remang-remang, dan hanya berisi orang-orang yang kita inginkan untuk berkaraoke bersama kita. Apa lagi yang kurang untuk nggak menjadi diri sendiri? Mungkin sedikit minuman beralkohol? Hahaha...
Lagi-lagi hari ini memang suratan menjadi hariku berkhayal tetapi terhenti saat suasana menjadi hening.
"Luciaaaaaa!" gema suara itu diikuti pelukan erat kepada Lucia yang menatap makhluk di depannya dengan nanar.
"Lupa ya?" lanjut makhluk itu seolah paham dengan penyakit akut Lucia.
Tak aneh lagi kan. Lucia memang mudah lupa. Aku sendiri bertanya-tanya bagaimana mungkin orang seperti Lucia menjadi sekretaris. Bukankah harus banyak yang diingat dan diatur ya? Harusnya tuh bukannya kerjaan sesuai dengan kapabilitas kita, seperti aku yang suka nawar menjadi Procurement Staff.
"Sorry Mbak, nggak kenal, eh nggak ingat," kata Lucia sopan kepada makhluk berjilbab yang sedang melirik ke arah teman-temannya yang mengkodenya untuk duduk bersama mereka.
"Mbak Retna," ujarnya sambil tersenyum manis. Manis banget. Jujur aku suka binar matanya saat tersenyum.
"Di Jogja, kita satu kost. Kamar kita berseberangan. Kamu selalu pulang, mengetuk kamarku, dan duduk berlama-lama menonton tivi sambil makan. Kalau senggang, sore-sore kita lari sore bersama. Udah ingat?"
"Masa iya kamu Mbak Retna?" tanyanya nggak percaya dengan penjelasan si bola mata manis itu.
Retna mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Sebuah handphone. Ada makhluk kuning kotak bergelantungan di salah satu sudutnya, dengan wajah penuh dnegan cengiran lebar dan mata ceria, Spongebob.
Lucia lantas memeluknya dan membuat pengakuan romantis, "Mbak Retna, aku kangen sama kamu."
Mungkinkah aku seharusnya minta gantungan handphone Doraemon pada Lucia agar saat bertemu dia ingat denganku? Tapi yang menyenangkan, tanpa itu dia mengingatku. Ah, mengharukan.

"Teman-teman sindikat TBC?" tanya Retna sambil menatap kami satu persatu dengan tidak percaya.
"Tidak butuh cinta?" lanjutnya.
Kami semua speechless, seolah-olah udah nggak pantas lagi di umur seginian bertingkah pola aneh. Aduh jadi malu, ini kan ideku ya?
"Aku gabung ya!" seru Retna dengan riang gembira.
Sekarang gantian mataku yang berbinar, Tuhan itu ajaib!
"Aku kepingin buktiin sama ibu dan bapak, kalau wanita yang sukses itu yang dapat bekerja profesional layaknya lelaki, bukannya wanita yang punya suami sukses. Jadinya, aku nggak ada pikiran untuk menggaet lelaki manapun, aku hanya ingin sampai di puncak karir, tanpa kehadiran cinta yang mengganggu karir."
Satu sudut pandang lagi, dan aku salut pada Retna yang baru aku kenal ini. Dia ingin sukses, bukan punya sumai yang sukses. Memang aneh ya kenapa sih wanita nggak boleh sesukses laki-laki? Kalau wanita itu sukses, kan laki-laki juga yang bangga. Atau jarang sekali ada laki-laki yang sukses ingin bersanding dengan wanita yang sukses?
Retna yang tampak sekilas sopan dan pemalu itu ternyata orangnya sangat terbuka pada orang-orang yang dianggap suka mendengarkan ceritanya. Meskipun pada dasarnya aku juga bawel, ada saatnya aku memang menjadi pendengar yang baik. Aku nggak suka dengan orang yang selalu ingin didengarkan, seperti jug anggak suka orang yang membuat suasana terasa dingin. Yang pas saja, ya begitulah.
Retna menceritakan bahwa dia adalah bungsu dari 8 bersaudara. Ayah dan ibunya adalah buruh tani, begitu juga kakak-kakak lelakinya. 2 orang kakak perempuannya digolongkan sebagai wanita yang cukup sukses di kampungnya karena bisa menggaet pegawai pemerintahan. Jauh di lubuk hatinya, menurutnya kedua kakaknya bisa jauh lebih sukses daripada itu. Mereka cantik dan pintar. Dewi, kakak perempuan tertuanya merelakan beasiswa untuk kuliah di Universitas Padjajaran, karena tidak direstui kedua orang tua dan keburu dijodohkan dengan Rendra yang bekerja sebagai staf walikota Yogyakarta. Demikian juga dengan Asti, kakak perempuannya satu lagi yang sangat ingin menjadi penyuluh KB terpaksa mengikuti jejak Dewi dengan menikah. Banyak orang yang nggak sanggup mengecewakan orangtua dan mengorbankan potensi diri serta cita-cita. Contoh-contoh nyata tersebut menjadi cambuk bagi Retna untuk membutktikan kesuksesan dengan caranya sendiri.
Aku merenungkan kisahnya dan berpaling ke kisahku. Mama dan Papa keduanya bekerja, dan aku lihat mereka nggak ada masalah. Papa seorang dokter umum dan mama seorang dokter gigi. Mungkin karena kesibukan masing-masing dan pengabdiannya pada masyarakat, tak ada yang dipandang sebagai persaingan. Mereka bahu membahu membagi waktu untuk membesarkan ketiga putri mereka: Fiana, Diana, dan aku: Triana. Walaupun Mama dan Papa sibuk, rasanya kita bertiga nggak kekurangan kasih sayang. Biasa saja, hepi-hepi saja. Itu salah satu bukti wanita yang sukses bersanding dengan pria yang sukses dan tetap bahagia.
Aku rasa sindikat ini bukan untuk anti-pria, tetapi hanya semacam sekumpulan wanita yang merasa tidak butuh cinta dari pria untuk merasakan kebahagiaan, dan itu nggak salah dong?

Hari ini adalah hari yang bersejarah dalam hidupku. Banyak hal yang aku dengarkan dan resapi hari ini.
Aku sendiri bertanya-tanya: seberapa yakin sih aku untuk hidup tanpa cinta lelaki?
Kalau saja Rio hadir sekarang di depanku, mungkin keteguhan hatiku ini akan goyah. Aku dan Rio. Aku mencintai Rio, tetapi Rio yang nggak suka dengan hubungan jarak jauh. Aku menjadi sangat membencinya karena itu.
Kemudian aku rasakan hari-hariku tanpa Rio, dan dengan malas melirak lirik atau kenalan dengan orang yang bermaksud menjalin hubungan cinta denganku. Hasilnya: kuliahku bagus, kegiatan organisasi dan kepanitiaan yang menyenangkan mengisi hari-hariku, begitu juga dalam berkarir aku nggak harus minta pendapat cowok.
Mungkin aku sama seperti Ci Pam yang mencintai lalu terluka, sementara Lucia dan Retna seolah nggak butuh cinta karena mereka belum merasakan manisnya dan sakit hati yang ditimbulkannya.
Ci Pam menoelku untuk segera masuk ke ruang karaoke. Sudah giliran kami ternyata. Aku, Ci Pam, dan Lucia pamitan pada Retna, dan kami berempat berjanji untuk bertemu lagi seminggu kemudian.

Words count: 1040

Me vs TBC [Part 6]

Terjaring

Siapa yang bisa sangka sih kalau sindikat yang baru terbentuk 5 menit sudah bisa memperluas jaringan? Hahaha... nih ya tak ada yang tak mungkin, bahkan saat kita inginkan, sangat sangat sangatttttttt ingin sesuatu, ingin ingin inginnnnnn banget sesuatu, kuncinya adalah: inginkanlah dengan sangat dan sungguh-sungguh, seperti kita inginkan udara untuk bernafas, die to get it! Mengapa harus segitunya? Ada seorang yang bernama Paulo Coelho mengatakan, “When you want something, all the universe conspires in helping you to achieve it.”
The Quote by Paulo Coelho (ilustrasi by google)

Saat kita menginginkan sesuatu, seluruh dunia akan bersama-sama membantu kita untuk mewujudkannya. Ya ya ya... lagi-lagi ini adalah pegangan hidupku yang menuntunku untuk semakin berani bermimpi gila.
Langkah pertama - selagi Ci Pam juga lagi asyik sama laptop-nya, dan daripada cengok atau kelihatan berkhayal, aku mengedarkan pandangan ke semua penjuru JCo ini, siapa tau ada yang bisa dijaring untuk masuk dalam sindikat TBC. 
Ngomong-ngomong, TBC sebenarnya juga bisa jadi sindikat yang keren kalau dianggap sebagai sindikat yang menggunakan Bahasa Inggris. Maksudku, Tak Butuh Cinta disingkat TBC (dibaca te-be-ce, seperti nama penyakit), sedangkan kalau sedikit dipoles menjadi keren, let say dijadikan The Beauty and Charming (ahay!), atau The Bloody Caramel (xixixi... seperti grup band punk!) dan diucapkan ti-bi-si instead of te-be-ce yang nggak keren itu. 
Nggak ada manusia yang kukenal deh kayaknya di dalam sini. Masa iya harus celingak celinguk keluar atau keliling mencari mangsa eh anggota? Mana mau Ci Pam dengan high hells-nya yang merepotkan itu! Sesuai agenda, hanya nongkrong di JCo, karaoke di Inul Vista, dan nonton di 21. Intinya hari ini adalah senang-senang dan bukan belanja, sehingga kostum yang Ci Pam pakai memang nggak mendukung untuk belanja. 
Dan tiba-tiba ada warna kuning mencolok, yang mendekat mendekat dan mendekat ke arahku. Atribut yang aneh, tapi nggak asing di mataku. Aih aih, Lucia!


"Hai Pam!" sapanya, dan kesalnya sapaan itu bukan untukku. 
"Hai Lucy, gimana kerja di Arsitex? Betah? Kalau nggak ngantor tambah norak aja lo. Hahaha..." candanya pedas seolah-olah yang dikenakan Ci Pam itu calm banget dan beda banget sama yang dikenakan Lucy. Beda sih beda, tapiiii intinya sama-sama nyakitin mata!
Ci Pam bercerita bahwa Lucia adalah sekretaris Arsitex, sebuah penyedia jasa arsitektur yang beken di Indonesia. Perusahaan kami adalah salah satu klien tetap Arsitex dan menurut Ci Pam berurusan dengan Lucia sangat menyenangkan dan nggak ribet. Intinya dia memuji Lucia habis-habisan sebagai seorang yang profesional dalam bekerja. Lantas memperkenalkanku, siapa tau nantinya aku akan berurusan dengan Lucia juga. 
"Bentar," kata Lucia menatapku lama tanpa mengulurkan tangannya. Untung saja aku nggak keburu mengulurkan tanganku. Gimana kalau Lucia sudah lupa padaku? 5 tahun bukan waktu yang singkat bukan? Sudah 5 tahun aku dan Lucia nggak pernah ketemu lagi. Sejak aku memutuskan untuk kuliah di Jakarta dan Lucia di Jogja. Lose contact, karena jurusan kita juga nggak nyambung buat saling ngobrol dan sibuk dengan aktifitas masing-masing.
Tapi, 3 tahun bukan waktu yang singkat juga bukan? Masa iya Lucia melupakan sahabatnya semasa SMA ini? Ehm, mestinya sih nggak tapi (tapi lagi!) kalau melihat tabiat Lucia sih wajar-wajar aja kalau dia lupa. Sering banget dia lupa kalau namaku itu Triana, dan hanya ingat TRI. Sementara Fiana sering disebut dengan kakakku yang tua, dan Diana kakakku yang muda. Lucia sangat mudah melupakan nama, dan parahnya nggak merasa terganggu dengan hal itu. 
"Woi! Bentar kok lama!" sontak aku dan Lucia terkaget mendengar teriakan Ci Pam. 
"Nggak Ci... ini... gua kayaknya kenal sama anak ini," katanya sambil menunjuk ke arahku.
Mukaku merah, menunduk, dan malu? Tentu saja!
Berpikir keras, Lucia menuturkan juga apa yang ada dalam pikirannya, "Mungkin cuma mirip sama sahabat gua waktu SMA, namanya... engggg... namanyaaaa... "
"Nama gua Tri. Lengkapnya Triana," cerocosku nggak sabaran. 
"Eh iya, Tri yang bikin kamarnya jadi hutan."
Doeng. 


Okeh, perkenalan kembali yang memalukan, tepatnya buatku. Selamat terbahak-bahak buat dua manusia paling aneh yang aku kenal di muka bumi ini. Dan aku telah menghabiskan choco blended untuk diseruput saat tawa ngakak dua manusia gokil ini membahana. 
Tak habis-habisnya Lucia menceritakan kekonyolanku semasa SMA, ditimpali dengan Ci Pam yang menceritakan kekonyolanku di kantor. Hampir setahun bekerja sebagai Staff Procurement, sementara Ci Pam dengan posisi sebagai Procurement Assistant Manager, nggak mungkin banget aku nggak terima kalau dia menceritakan kekonyolanku atau sekedar menganggapku konyol. Karir baru dimulai, aku nggak pingin berhenti gara-gara persoalan sepele. 
Lagipula, jauh di lubuk hati, aku tau bahwa Ci Pam itu baik dan nggak ada maksud untuk menyakiti. Bahkan, ia sangat yakin aku adalah kandidat penggantinya. Ci Pam beruntung banget, tapi itu karena dia memang punya talenta juga. Kata anak-anak kantor, Ci Pam resign karena akan menikah, tapi setahun kemudian ia kembali lagi, dan kebetulan juga posisi yang dia tinggalkan kosong. Procurement Assistant Manager penggantinya nggak sanggup melakukan pekerjaan sebaik dirinya. Menurut Ci Pam, memang nggak cocok kalau Procurement Assistant Manager itu berasal dari luar, karena kerjaan di sini ibarat main game, yang punya trik tersendiri, tiap tahun kita akan bekerja lebih cepat dengan keribetan yang ada. 
Kupandangi Lucia dengan T-shirt kuning bergambar SpongeBob Squarepants dengan muka nyengir si makhluk kotak itu. Ke mana semua koleksi Doraemonnya? Dari makhluk bundar berwarna biru, sepertinya sekarang cintanya telah pindah ke makhluk kotak berwarna kuning. 
Hening. Mungkinkah kedua manusia tukang ngakak itu telah kehabisan cerita konyol untuk dibagikan? 


Jadi, Ci Pam baru saja bercerita tentang kekonyolanku yang terakhir, tentang sindikat TBC. 
Lantas, Lucia memutuskan untuk bergabung dengan semangat 45. Oh ya, mereka terdiam karena meminta pendapatku. 
"Dua kepala lebih baik daripada satu. Tiga kepala lebih baik daripada dua," jawabku diplomatis. 
Nggak sangka kok ada yah yang terjaring sedemikian cepatnya? Dengan cara yang tak terduga pula. Benarkah kata-kata itu menjadi mantra? When you want something, all the universe conspires in helping you to achieve it.
"Tak Butuh Cinta," ulang Lucia. 
Dia melanjutkan, "Gua anti cinta-cintaan sama cowok, tapi gua menghargai cowok yang punya kemampuan, tanpa harus jatuh cinta. Gua lebih suka kehidupan pribadi gua tanpa cowok, apa salah?"
Aku dan Ci Pam mengangguk-angguk tanda setuju dengan pendapat Lucia.
Lucia mendadak beranjak pergi, mengambil strawberry yogurt freeze-nya telah siap disajikan oleh bartender.
Strawberry Yogurt Freeze (ilustrasi by google)

Dia kembali dan berkata, "Tri, gua sering lupa nama lo. Tapi gua ingat selalu bilang sama Mama gua kalo gua akan cari pacar kalau lo menikah."
"Oh," kataku ternganga atas proses pengingatan kembali yang membuatku terkejut. 
Sumpah yang aneh, sungguh!

Words count: 1022

Kamis, 05 Januari 2012

Me vs TBC [Part 4]

Paginya Retna 

Kamar kost ini memang sangat mungil, tapi cukup buat Retna beraktifitas. Mungkin karena sudah terbiasa dengan kamar yang kecil dan nggak suka terlalu banyak barang. Sederhana, itulah yang dipancarkan oleh diri Retna. Cantik, manis, dan soleh, kalau pulang ke kampung halaman banyak saja yang menyayangkan status single-nya. Rekan-rekan seumurnya sudah sibuk mengurus anak-anak balita mereka, masing-masing membanggakan kehebatan anak-anaknya. Ya, Retna memang hanya bisa tersenyum sopan dan mendengarkan.
Orang tua Retna memang agak terganggu dengan status single anak bungsu mereka, tetapi tidak menemukan orang yang tepat untuk dijodohkan kepada Retna. Retna adalah anak bungsu dari 8 bersaudara, dan hanya ia satu-satunya yang berhasil menembus pendidikan hingga perguruan tinggi. Lebih membanggakan lagi, Retna sekarang bekerja di salah satu Kantor Akuntan Publik di Jakarta. Masuk tahun ketujuh bekerja di kantor ini, Retna telah menjadi auditor yang diperhitungkan kemampuannya. Penghasilan Retna juga telah mengangkat derajat keluarganya, mereka adalah keluarga termakmur di kampung. Kedua orangtua Retna yang dulunya buruh tani telah menjadi peternak sapi dan kambing, juga menjadi pemilik sawah. Berbagai perhelatan juga mereka lakukan besar-besaran, terutama setiap Idul Adha. Retna juga adalah penyandang dana untuk kemajuan pertanian di desa, setiap bulan didatangkan tenaga ahli untuk memberikan penyuluhan secara gratis kepada semua petani dan peternak.
Banyak yang bertanya-tanya apa yang dilakukan Retna di Jakarta, tak jarang pula ada yang iseng menggosipkan bahwa Retna memperoleh uang dengan cara yang tidak halal, hingga Retna sempat ngambek untuk pulang kampung. Hingga setahun kemudian saat anak Pak Kades bernama Shania ngotot untuk berkuliah jurusan Akuntansi, orang-orang kampung agak paham apa pekerjaan auditor yang dilakoni oleh Retna tersebut.
"Aku harus kuliah akuntansi seperti Mbak Retna supaya bisa menjadi Auditor seperti Mbak Retna. Auditor itu keren, kalau yang di pemerintahan namanya BPK (Badan Pemeriksa Keuangan). Auditor itu harus orang yang ahli dan mengerti bagaimana laporan yang isinya angka-angka bisa berpengaruh terhadap orang yang membaca. Untuk itu auditor harus memeriksa kebenaran angka-angka yang tertera itu. Nggak semua orang bisa seperti itu," kumandang Shania kepada siapapun yang bertanya mengapa putri Pak Kades itu ngotot ingin ikut jejak Retna.
Kalau ada yang berani melirik Retna, pastinya bukan lelaki dari kampungnya. Semuanya minder meskipun Retna tidak pernah bertingkah laku sombong. Dan yang paling penting Retna sendiri tidak merasa terganggu di umur 28 tahun belum berumah tangga. Banyak pekerja kantoran seumurannya yang masih melajang dan tidak mempunyai pacar, apalagi suami.
Tak puas-puas memandang foto keluarga besarnya yang terpampang di dinding kamar, Retna tersenyum.
"Aku bahagia bila mereka bahagia," batinnya.
Adzan berkumandang. Saatnya sholat subuh, lalu tidur sebentar agar ada energi lagi untuk lembur setengah hari nanti.

Alarm jam 8 kurang kurang 10, buru-buru Retna mandi. Seperti biasa setelah mandi ia mengetok kamar Lucia yang dilalui sebelum kamarnya dan memastikan si badung itu menyahut dan membuka pintu. Seperti biasa, terseok-seok dan dengan ekspresi tersiksa Lucia yang sudah dianggap adik sendiri oleh Retna itu akan berjalan ke kamar mandi.
Setelah berpamitan, Retna buru-buru berjalan kaki ke kantor. Kost-nya sangat dekat dengan kantor, berada di belakang kantor. Secangkir milo hangat dari mesin pembuat minuman otomatis di kantor yang terbayang
membuatnya bersemangat untuk sampai lebih cepat.
Pemandangan 7 tahun lalu berkelabat, dulu karirnya dimulai dari berjejal di kubikel dan mengerjakan pekerjaan remeh temeh seperti menjumlahkan ulang dengan kalkulator. Seulas senyum tersimpul di wajahnya saat memandang ke ruangan yang baru dihidupkan lampu olehnya itu. Sementara sekarang, ia memiliki ruangan kerja sendiri dan banyak downline yang bekerja untuknya.
kubikel (illustrasi by google)

Tidak banyak orang yang bekerja lembur di hari Sabtu, hanya beberapa tim audit yang dikejar deadline. Tim yang dirancang Retna untuk menuntaskan audit PT ASD memang patut diancungi jempol. Tiga cewek yang berbadan ceking itu mampu menuntaskan pekerjaan hanya dalam 1 minggu, dengan lembur mati-matian pastinya. Karena kesibukan dengan klien lain, Sabtu ini Retna memutuskan untuk me-review pekerjaan mereka. Bahkan Tina si pemimpin tim akan datang jam 9 untuk mendengarkan hasil review Retna.
Pekerjaan yang rapi dan sangat memuaskan. Ada beberapa poin penting yang harus ditelusuri lebih lanjut telah diketik Retna dan dicetak pada selembar kertas HVS. Tak terasa satu jam berlalu dan Tina menghampiri ruangan Retna dengan penuh keceriaan.
"Hai Ret, gimana ASD? Ada tambahan?" celetuk ceria gadis itu.
Retna memaparkan beberapa hal yang dirasa kurang lengkap dan Tina mengangguk-angguk penuh pengertian, lalu berlalu dari hadapannya.

Milo hangat. Hampir saja Retna lupa. Bergegas ia berjalan ke mesin pembuat minuman otomatis dan memencet tombol MILO. Buih-buih dan bau khas coklat membuatnya tersenyum kembali, melupakan tidur yang hanya 3 jam. Banyak orang yang senang minum kopi untuk menghilangkan kantuk, tapi Retna tidak demikian.
Milo Hangat (illustrasi pribadi)

Dering telpon di mejanya terdengar nyaring di tengah kesunyian. Retna bergegas kembali ke ruangan.
"Mbak, brunch at Pancious. Now?" cerocos Lucia saat telpon diangkat Retna.
"Okay, duluan ngesot gih. Pesanin gua double pancake with oreo ice cream, sama sweet ice tea sedikit es. Gua sekarang naik taksi ke sana."
"Sip, Mbak, see you there!"
Hahaha... cepat saja anak itu, pasti udah lapar berat. Lucia Lucia... setiap tingkah lakunya selalu membuat Retna tertawa. Ada saja manusia macam ini, yang membuat hidup Retna nggak terlalu monoton.
Sebenarnya sih, makan siomay di depan Atmajaya dan makan Pancious di Pasific Place bersama Lucia nggak ada bedanya. Sama senangnya, karena Lucia selalu ceria dan punya banyak cerita. Apalagi cerita tentang ketololan SpongeBob. Makhuk gabus bujur sangkar berwarna kuning yang Lucia jadikan teman setia sejak jaman kuliah itu telah menjadi maskot kesayangan Lucia.
Terharu juga kalau ingat si tomboy Lucia yang mengaku baru pertama kalinya menangis saat Retna harus berangkat meninggalkan kost untuk menerima tawaran kerja di Jakarta. Lucia meraung-raung... hahaha... 3 tahun kemudian, Retna menemukan Lucia sedang menangis pilu ditemani dua orang cewek lainnya di Jco Semanggi.
"Lucia, kenapa? Lucia kan?" tegur Retna saat itu.
"Jangan sok kenal deh!" balas Lucia sengit.
"Ingat ini?" Retna menyodorkan gantungan handphone Spongebob pemberian Lucia.
Sontak Lucia langsung meraung-raung memeluk Retna, lalu memperkenalkan Retna kepada Triana dan Pamela. 
Hahaha... sudahlah, Retna malah asyik melamun sambil menyeruput milo hangatnya.
Perlahan Retna mengemasi barang dan pamit pulang duluan kepada tim ASD yang masih bekerja. Mungkin nggak pergi lama sih, setelah brunch dengan Lucia, Retna akan kembali bekerja memeriksa kembali kekurangan pekerjaan downline-nya.

Words count: 993

Me vs TBC [Part 3]

Paginya Lucia

Kamar kost yang sempit dan sumpek itu nggak jadi soal untuk membuat Lucia tetap tidur nyenyak. Kata Mama, kost tempat tinggalnya ini sangat nggak manusiawi, udah kayak penjara. Gimana nggak, ukurannya 2 x 2,5 meter. Begitu pintu kamar dibuka, langsung berhadapan dengan samping lemari pakaian. Ada celah kecil untuk berjalan ke arah tempat tidur, itupun setelah menggeser kursi meja rias. Meja rias itu terletak pada bagian kaki tempat tidur, super minimalis yang dipenuhi laptop, komik-komik, DVD-DVD Korea, alat make-up, alat tulis, dan pernak-pernik lain yang tindih menindih. Belum lagi tempat tidur yang dipenuhi dengan koleksi boneka Sponge-Bob beragam gaya dan ukuran di tempat tidur, lantai, atas lemari, dan ada juga di tempat-tempat yang tak terduga. Paling parah, kamar itu tanpa jendela dan mengandalkan dinginnya angin AC.
Spongebob Squarepant (ilustrasi by google)

Entah keturunan darimana kebo-nya Lucia ini. Mama dan Papa super rapi, selalu bangun sebelum jam 6 pagi dan membaca Kitab Suci. Seramai-ramainya koleksi patung Mama, nggak ada yang nggak sedap dipandang. Yah, kalau Mama datang juga kamar ini akan jadi surga mini yang rapi dan wangi, tapi nggak nyaman untuk ditinggali. Xixixi... habisnya Mama bawel banget!
Mungkin ya, karena nggak terbiasa merapikan sendiri sih, makanya Lucia hidup seperti ini. Hidup di surga kecilnya sendiri yang super berantakan, tapi ia tau di mana letak semua barangnya! Well, takes time untuk mencarinya, tapi paling nggak ia selalu berhasil menemukan apa yang dicarinya. Nggak cuma rapi-rapi, kebiasaan bangun sendiri juga nggak ada. Selama kuliah 4 tahun tinggal di kost di Jogja, bukannya belajar mandiri, adanya tambah bebas untuk telat datang kuliah. Hehehe...
Dannnnnnnn kayaknya hari sudah pagi. Bbm yang masuk tak henti menghasilkan cicit-cicit yang mengganggu kenyenyakan tidur Lucia. Mengapa ada orang-orang seperti Triana yang setiap pagi suka broadcast sesuatu yang inspiratif ke semua contact? Niatnya sih untuk menginspirasi orang lain, tapi buat Lucia yang ada untuk membangunkan dengan sesuatu yang berat dibaca dan membuat pengen tidur lagi. Hehehe... tapi jangan sampai Triana tau atas hal ini.
Oh ya, dan juga ada orang-orang sok eksis seperti Cici Pamela. Setiap saat ngelaporin aktifitasnya, kayak artis ajah. Mulai dari janda bahenol itu buka mata, bersiin rumah, lari pagi, bikin sarapan sendiri atau lagi sarapan di mana plus fotonya, mandi pagi, beol pagi (seriusan ini kan nggak penting untuk dikasih tau ke orang-orang ya???), apa yang akan dilakukan hari ini, belum lagi barang-barang yang dia jual di dunia maya. Aih, berisiknya. Cuman angkat topi juga buat suksesnya eksistensi dan juga bisnis si bawel ini. Cocok kali kalo didudukin berdua sama Mama. Hahaha...
Bisa dibilang hanya Retna yang sejiwa siklus hidupnya dengan Lucia. Bedanya, Retna bangun kesiangan karena tidurnya juga kemalaman, dan tidur kemalaman karena kerja keras dan bukannya browsing tak henti atau nonton DVD Korea. Paling nggak, ada seorang teman yang nggak akan mengganggu paginya dan menjadi sahabat setia di kala-kala jadi kalong. Si cengeng itu pasti lagi mandi, kedengeran cebar ceburnya. Dan abis mandi pasti ngetukin kamar Lucia.
"Tok tok tok..." tuh kan benerrr, baru juga dikatain udah beraksi.
"Iya Ret, gua mandi," sahut Lucia sambil tergopoh-gopoh ia keluar kamar dengan gaya zombie abis dan muram durjana, berengsek ke kamar mandi.
Nggak lama makhluk yang nggak bisa ilang medoknya itu sudah pamitan berangkat duluan.
"Lulu, gua duluan yaaaa," katanya riang gembira. Aneh, lembur aja seneng!
Tanpa disahutin juga udah ngacir tuh Retna, dan Lucia mandi sambil mengumpat klien gede yang rese minta deal hari Sabtu. Aaaaargh, ganggu acara molor aja!!!!

Bagaikan bumi dan langit, keadaan kamar dan kantor Lucia, begitu juga keadaan dirinya di kost dan di kantor. Siapa sangka sih sekretaris yang super stylish dan rewel kebersihan ini aslinya super berantakan???
Tik tok tik tok. Detak jam dinding di ruang super dingin ini membuat Lucia bergidik. Ah, pikirannya terbawa-bawa sama film horor Jepang semalam neh, sial!
Sepi sih sepi, tapi nggak ada yang menyeramkan dari ruangan ini. Bertempat di Pasifik Place, kantor ini nggak kalah mewahnya dengan kapal pesiar. Plus kerjaan di kantor ini nggak begitu ribet. Paling-paling dalam sebulan ada dua atau tiga meeting dengan klien yang bonafid, Lucia yang atur semua untuk meeting dan membuat laporannya. Untuk meeting final, mendampingi si bos bule dan tim yang arsitek yang akan terlibat.
Ada juga sih tambahan kerjaan untuk pegang petty cash dan buat pertanggungjawabannya. Paling buat bayarin uang Aqua Galon atau lemburnya Pak Sarman, orang filing. Lebih enak Pak Sarman lagi, tugasnya sebagai orang filing cuman nyimpen dokumen dan nyari dokumen. Kaki tangan Lucia gitu. Hahaha...
Sisanya? Yaaa, betah-betahin aja, maen facebook dan blogging sepuasnya. Angkat telpon dengan profesional, ngobrol sama Cici Pamela di telpon (kalau dia lagi nggak sibuk), atau bisa jelajah mall sama Berna, akuntan satu-satunya, kalo dia lagi nggak closing.
Sudah satu jam, nggak kunjung ditelpon nih sama perusahaan minyak dan gas yang mau pakai jasa Arsitex. Siaul, sibuk sih sibuk, baru sih baru, tapi bosen juga udah bela-belain datang kok nggak ada kerjaan. Mana Berna lagi nggak closing lagi, nggak ada temennya pulak. Huhuhu... sendiri... sepi...
"Kring... ," bunyi manis si telpon putih.
Nggak sabar sih, tapi jaim juga angkatin di dering pertama. Hahaha...
Dering kedua, Lucia mengangkat telponnya, "Morning. Arsitex, Lucia speaking. May I help you?"
"Ini gue!" sahut suara di seberang telpon.
"Ajigile, kok elu sih Tri???" Lucia cengok. Ah, tau yang mau nelpon Triana, suruh aja telpon ke handphone dan nggak perlu masuk kantor segala. Argggggggh... bbm aja sekalian, atau ntar malam aja sekalian ngomongnya.
"Gue gantiin Cici Pamela. Hehehe..." pasti deh Lucia lupa, dasar tuh anak cuman mikirin artis Korea.
"Oh iya, ohemji, gua lupa. So, lu mau minta harga berapa? Meeting-nya kapan? Mau pakai siapa arsitek dan anggota timnya?" sosor Lucia.
"Ikutin yang biasa dulu-dulu dipakai aja. Meetingnya Senin aja, jam 9 pagi, gue dan manager. Gue minta quotation dan contoh-contoh design office. Fax ke gue ya," Triana udah mulai serius.
"Okeh, dan let me go home abis ngerjain semuanya. Bye Tri," sambung Lucia dengan riang gembira.

Klak klik klak klik. Selesai sudah kerjaan untuk dikirimin ke Triana.
Mumpung masih di kantor, telpon Mbak Retna dulu ah. Kali-kali dia minat untuk brunch di Pancious, lumayan nggak harus makan sendirian. Lagian Sabtu gini, lembur iya tapi nggak terlalu hectic lah ya.
"Mbak, brunch at Pancious. Now?" cerocos Lucia saat telpon diangkat Retna.
"Okay, duluan ngesot gih. Pesanin gua double pancake with oreo ice cream, sama sweet ice tea sedikit es. Gua sekarang naik taksi ke sana."
"Sip, Mbak, see you there!"
Oreo Pancake (illustrasi by google)
 

Word count: 1047

Senin, 02 Januari 2012

Me vs TBC [Part 2]

Paginya Pamela 

Amy masih terlelap. Wajah bulat putihnya seperti malaikat, manis dan menyihir. Tak bosan-bosan kupandang Amy, buah hatiku. Mami benar, aku mencintai Amy meskipun Amy selalu mengingatkanku pada Andre.
"Kamu dan Andre yang berdosa, Pam. Bukan anak yang ada di rahim kamu. Bayi itu berhak untuk hidup, kamu dan Andre bisa menikah. Kalian sudah berdosa dan jangan menambah dosa lagi dengan membunuh," kata-kata Mami saat aku mengadu 6 tahun yang lalu.
Pamela membelai Amy yang tetap lelap tanpa merasa terusik. Aku sungguh tak menyesal mengikuti kata-kata Mami. Amy tak berdosa, hingga kini tak ada gurat dosa apapun di wajah bocah itu. Andre? Entah ke mana dia sejak Amy berumur 1 tahun. Andre tampaknya tak siap untuk menjadi ayah. Andre yang suka berhura-hura itu merasa terkekang dan terganggu dengan kehadiran Amy.
Setelah mengecup putri semata wayangnya, Pamela beranjak pergi. Sudah jam 7, setengah jam lagi take-off, tapi ia masih di kamar Amy. Terburu-buru Pamela menaiki ojek dan berangkat ke bandara Hang Nadim.

Selamat tinggal Batam. Pamela akan sangat merindukan lagi momen bahagia untuk berkumpul bersama Mami dan Amy. Kehadiran Amy menjadi obat tersendiri bagi Mami yang setahun ini ditinggal Papi. Berkat Amy, Mami nggak begitu kesepian dan larut dalam duka atas meninggalnya Papi.
Senyuman dan tawa renyah Amy saat main di Timezone, makan seafood di Batu Besar, dan berbelanja bersama di TOP 100 masih terbayang di benak Pamela. Sempat ia tak memikirkan Amy, hanya memikirkan agar tak ketinggalan pesawat di sepanjang perjalanan dari rumah ke bandara.
Cukup dekat lokasi rumah Mami dengan bandara, kira-kira 15 menit saja, tapi tetap saja rasa deg-deg ketinggalan pesawat itu menguasai dirinya, membuatnya lupa dengan Amy, bahkan dengan cacing-cacingnya.
"Belum terlalu terlambat untuk sarapan di Soekarno-Hatta saja," batin Pamela.
Perjalanan ini kurang lebih hanya 1 jam, tanggung juga untuk tidur. Baru merem udah nyampe ntar, hehehe... jadi Pamela memutuskan melakukan sesuatu yang lebih berguna, mengasah otak dengan Sudoku versi buku, daripada suntuk atau termenung.
5 menit telah berlalu dan 1 puzzle Sudoku telah berhasil ia tuntaskan. Terbayang olehnya Amy yang tak mengerti dengan permainan Sudoku yang sangat digandrungi oleh Pamela. Kotak besar yang terbentuk dari 81 kotak kecil, kotak tersebut beberapa telah diisi dengan angka, dan tugas pemain adalah menebak sisanya. Dalam 1 baris dan 1 kolom diiisi dengan angka-angka 1,2,3,4,5,6,7,8,9 tanpa ada yang sama dalam 1 baris atau kolom. Ya, gampang-gampang susah sih. Permainan logika dari Jepang ini juga punya tingkat kesulitan yang berbeda. Pamela sendiri sudah sampai ke tingkat mahir setelah bermain selama 2 tahun lebih.
Ilustrasi puzzle Sudoku (image by google)

Amy. Ada rasa senang bercampur sedih kalau ingat sosok malaikat mungil itu. Semua yang Pamela lakukan saat ini adalah demi Amy. Pamela tak takut untuk berjuang sendirian di Ibukota agar Amy memperoleh makanan yang bergizi dan pendidikan yang terbaik. Tapi lama kelamaan, ada satu yang Pamela rindukan: tetap bersama Amy sepanjang hari, seperti 2 hari ini.
"Kadangkala uang adalah pangkal kebahagiaan. Tetapi tak dapat dipungkiri ada kebahagiaan yang tidak dapat dibeli dengan uang. Uang hanya membuat kita lebih mudah untuk memilih pemuas agar kita merasa bahagia," kata-kata bijak Retna mengalir di pikiran Pamela yang berkelana.
Kebahagiaan yang Pamela inginkan akan segera ia wujudkan, tahun depan. Bersabarlah setahun lagi Amy. Setelah Amy menuntaskan TK di Batam, dan saat Pamela mantap dengan usahanya, Amy dan Mami akan pindah ke Jakarta bersama Pamela.
Pamela merasa siap untuk menjadi pengusaha. Tak hanya berjualan online, sekarang ia telah membuka sebuah butik pakaian dan aksesoris wanita di wilayah Benhil. Lumayan sih, melebihi gaji waktu kerja sebagai Procurement Assistant Manager waktu dulu. Tapi tentu saja, Pamela tidak ingin terburu-buru mengatakan semuanya telah mantap. Biarlah setahun lagi berlalu, ia yakin itulah yang terbaik.

Pengumuman ketibaan, bahwa sebentar lagi pesawat yang Pamela tumpangi akan mendarat di Soekarno-Hatta dari pramugari membuyarkan lamunan Pamela yang menjelajah bebas. Pamela sudah tidak sabar untuk mengatakan pada dunia bahwa sekarang ia telah merdeka dari ketentuan dilarang menghidupkan handphone.
Sungguh rasanya, mau mati 1 jam tanpa melihat HP. Puluhan notif membanjiri BB-nya. Satu persatu bbm, mention, ym, dan FB message ia balas. Lupa sudah Pamela dengan lamunan-lamunan sendunya.
"Udah di Jakarta dong," tulisnya pada BB grup TBC.
TBC, Tak Butuh Cinta. Pamela dan Triana nggak sengaja membuat kelompok aneh tersebut. Dulu, kebanyakan orang di Procurement Department mengatakan duo lajang dan janda cantik ini menyia-nyiakan anugrah terbesar mereka, yaitu: kapabilitas untuk menggaet lelaki manapun yang mereka inginkan. Dan Triana berkilah bahwa: Tak Butuh Cinta. Sepanjang sore mereka membahas hal itu lewat ym, dan malamnya nongkrong di JCo dan menggaet dua personil tambahan di sana.
"Gue tak butuh cinta. Sometimes, we need money more than love," canda Triana saat itu.
Dalam hati Pamela mengiyakan. Tentang Andre yang pergi karena tidak siap menjadi seorang ayah, pangkalnya sebenarnya karena secara keuangan gaji Andre hanya cukup untuk dirinya sendiri. Hura-huranya yah nempel sana sini. Pamela tentu saja lebih mementingkan kebutuhan Amy daripada menyenangkan hati Andre. Andre baik, tapi mengenai uang sangat boros berlebihan. Mereka jadi sering berantem, gara-gara cara menghabiskan uang Andre yang berlebihan.
Ah, lupakan Andre. Triana nelpon. Lucu sekali anak itu, pasti mau jejeritan soal kerjaan. Dua bulan lalu Triana sah dipromosikan untuk menggantikan Pamela yang resign dari jabatan Procurement Assistant Manager.
"Deal sama perusahaan jasa arsitektur? Arsitex maksud lo? Ya telpon lah, kayak lupa aja siapa yang bakal angkat telpon lo," cerocos Pamela ke Triana yang panik dan katanya nelpon dari toilet minta petunjuk.
Telpon ditutup setelah jawaban Triana. Maklum, kerjaan anak itu pasti numpuk dan nggak bisa berkangen-kangenan. Tentu saja Triana harus menelpon Lucia, sekretaris Arsitex yang katanya anak-anak seruangan siiiih serem abis.
Dan, saat menutup telpon kok ada Starbuck di depan mata? Yuk sarapan!

Word count: 910

Minggu, 01 Januari 2012

Me vs TBC [Part 1]

Bab 1 
Selamat Pagiiii
_____
Paginya Triana 

Sabtu pagi. Uh, alangkah indahnya kalau bisa bangun siang dan bergelung nyaman di bawah bed cover. Atau bangun pagi deh menikmati udara segar pegunungan dari jendela kamar. Hihihi... berkhayal deh ah, mana ada udara segar di Ibukota ini! Tapi tak ada gunanya mengeluh, toh besok Triana akan melakukan kegiatan paling menyenangkan di dunia itu: do nothing dan menikmati setiap tarikan nafas dan rasa nyaman.
ilustrasi pagi yang segar (image by google)

Jam 8 kurang 10 menit. Triana bukan orang yang suka telat. Paling nggak, seperti sekarang ini, 10 menit dari waktu yang telah ditentukan, ia telah siap sedia. Baginya, bukanlah sebuah kebodohan untuk menunggu. Ada banyak hal menarik yang tak terpikirkan sebelumnya untuk dilakukan, ada rasa percaya diri yang meluap, dan ketenangan di hati kalau datang lebih awal. Contohnya sekarang: Triana bisa merapikan dandanannya, menatap foto keluarga di meja kerjanya, menuliskan daftar prioritas kerja, membalas bbm dari beberapa teman, broadcast sesuatu yang inspiratif, melihat dirinya sendiri tersenyum pada cermin mungil yang ditempel di bingkai monitor komputer, dan minum segelas air putih.
Setelah puas dengan me time yang singkat itu, mood untuk bekerja sudah menggebu-gebu banget. Eh bentar, apa sih yang dikerjakan Triana?
Triana bekerja pada sebuah perusahaan minyak bumi dan gas alam (migas), tapi jangan sangka kerjaannya mengisi bensin di pompa bensin. Perusahaan yang besar dan punya banyak urusan begitu, tentunya perlu pembagian pekerjaan yang dilakukan oleh orang-orang yang ahli di bidangnya, atau paling nggak cukup ahli dalam melakukan pekerjaannya.
Triana yang lulusan Public Relation dan hobi cuap-cuap ini, sudah bergabung di sini selama 5 tahun sebagai Procurement Staff (staff pembelian). Bila ada yang memerlukan barang/jasa sebagai kebutuhan, dapat request ke bagian procurement mengenai barang/jasa tersebut, beserta spesifikasinya. Yang mencari, negosiasi, dan membeli barang tersebut adalah Procurement Staff.
Tentu saja pekerjaan Triana nggak semudah membelikan titipan ibu ke pasar, banyak hal yang harus dipertimbangkan sebelum memutuskan membeli barang/jasa bagi yang membutuhkan (user). Triana butuh kejelasan dari user tentang barang/jasa tersebut, mengecek budget user apakah masih ada untuk membeli kebutuhan tersebut ke bagian budget, meminta quotation (penawaran spesifiakasi barang/jasa berikut harganya) ke 2 atau 3 supplier barang/jasa tersebut, negosiasi yang alot dengan supplier-supplier tersebut, membuat perbandingan spesifikasi dan harga dari supplier yang telah ia hubungi, dan meminta persetujuan manager sebelum mengirimkan Purchase Order (PO) ke supplier tersebut. Banyak?
Masih ada lagi saudara-saudara! Setelah dapat kabar barangnya sampai user, kadang dapat komplain nggak sesuai dengan maunya mereka, yaaah terpaksa harus jadi perantara lagi antara user dan supplier. Urusan bayar membayar juga harus Triana urus ke bagian Accounting untuk melakukan pembayaran ke supplier terkait, melalui transfer dari rekening perusahaan ke rekening supplier.
Entah yang mana duluan, kerjain aja yang paling mendesak. Hahaha... prinsip itu menjadi pegangan Triana bertahun-tahun. Keribetan pekerjaannya ini bukan membuat Triana stress, malah membangkitkan adrenalinnya untuk bekerja setiap hari. To many things to do, dan banyak hal-hal yang tak terduga, rasanya menyenangkan sekali! Belum lagi kepuasan batin kalau bisa nawar dengan jurus-jurus mautnya.

Ruangan itu kasak kusuk. Nggak ada ketenangan di sudut manapun. Bunyi printer yang bertrit-trit, berpadu manis dengan hentakan-hentakan berirama pada keyboard. Ditambah dengan kegaduhan masing-masing: ada yang lagi bercuit-cuit di telpon, mencari selembar kertas penting yang hilang, kongkow-kongkow ngobrolin jambul khatulistiwa Syahrini sambil ngopi, dua emak di sudut ngobrolin tentang tugas sekolah anak-anaknya sambil mengetik balasan email. Polusi suara di saat jam mulai kerja. Untung saja Triana sudah menikmati me time-nya.
Itu baru suara loh, belum lagi udara. Hahaha... memang sih bukan bau menusuk seperti ada yang buang angin, tetapi sungguh nggak nikmat membaui campuran berbagai macam bau sekaligus. Parfum yang beraneka ragam, bau pengharum ruangan, kopi, ditambah bau penggoda selera indomie kari ayam yang dinikmati si gempal di pojok sana setiap pagi. Ohmigod! Inilah duniaku!
8 deal hari ini, kalau bisa lebih, target Triana kepada dirinya sendiri. Dalam kegaduhan tersebut, Triana sudah memulai misi untuk menuntaskan pekerjaannya yang pertama.
Secara Pak Tommy bagian sales toko furniture ini paling nyenengin diajak ngomong, ini aja deh duluan. Nggak pengen banget pagi-pagi mood udah rusak. Enak sih enak, tapi lebih banyak cerita yang oot (out of topic) kalau ngomong sama Pak Tommy.
"Udah jelas gua nikah aja belom, malah diajak ngomongin merek susu anak balita yang bagus. Hahaha... yaaah dilayani aja dulu deh, biar ntar negonya hati Pak Tommy seneng. Moga-moga ntar gua dapat harga yang bagus," batin Triana.
"Tri," bisik Indah rekannya sambil mengarahkan dagu ke gagang telpon yang hendak Indah berikan pada Triana. 
"Bentar... gua lagi online," bisik Triana pada rekannya. Indah langsung ngerti dan meminta si penelpon meninggalkan identitas dan pesan untuk Triana.
Nggak juga. Sambil nyerocos nego harga Triana mengetik chat pada ym. Seulas senyum mengembang, tapi ia menundukkan wajahnya agar tak tampak oleh rekan-rekan seruangan.
Maklumlah, hatinya lagi sumringah. Ada yang nyenengin hati sih. Iya itu, mahkluk yang chatting dengan Triana itu tuh.
Seneng sih boleh seneng, tapi jangan sangka bisa senyam-senyum sambil menatap daun-daun yang bergerak lincah di luar jendela. Yang ada nih ya, Triana tetap beraksi untuk make sure negonya dengan supplier ini berhasil.
Gitu deh kalo kerja di bidang procurement, harus ngadapin user yang rewel minta kebutuhannya dibeli duluan, tapi juga nggak bisa longgar ke supplier. Harus neken harga seminimal mungkin tapi caranya smooth dong.
ilustrasi menumpuknya kerjaan (image by google)

Liat saja aksi Triana mengakhiri negonya. Gimana nggak, udah 5 tahun jadi Procurement Staff, baru diangkat pula jadi Procurement Assistant Manager. Nego-negoan udah makanan sehari-hari yang tanpa henti. Yah kayak yang satu ini, Triana bercerocos lincah dengan profesional. Udah nggak kalah deh kualitas merayu mendayu-dayunya dengan penyiar radio kawakan. Hahahay...
"Siplah, Pak. Kualitas nggak turun dong ya, ntar nggak sesuai sama request user kita. Ntar quotation yang udah di-approve saya fax balik, bisa langsung kirim furniture bapak ke gudang kami. Thank you, Pak."
Ah, selesai satu. Triana menyesap hot chinese tea-nya sebelum online lagi ngadepin designer interior. Rada-rada bingung juga sih, abisnya gimana coba cara nawar jasa, job yang satu dengan yang lainnya kan nggak bisa disamakan tingkat kesulitan dan modif-modifnya. Sejak baru jadi Procurement Assistant Manager sih baru Triana berurusan dengan klien jasa profesional yang matok harga seenak udel gini. Nggak cuma modal ngomong doang, Triana juga mesti punya knowledge juga sebelum nego, takutnya ntar nggak ngerti sama bahasa-bahasa teknis mereka, cengok dah ntar.
Browsing, pelajari prosedur nego proyek-proyek lain yang sudah pernah terlaksana, minta arahan dulu dari manager, belum lagi bandingin dengan supplier lain dalam hal kualitas maupun harga. Kok banyak yah to do list untuk satu nego ini?! Ntar dulu ah, mending ke toilet dulu ah, kebelet ah. Ah ah ah...

Word count: 1071

Rabu, 21 Desember 2011

Sinopsis: Me vs TBC (J50K)

Tokoh utama: Triana, Pamela, Lucia, Retna, Rio
Tema: pernikahan vs persahabatan
Genre: urban life

Ada sebuah sindikat curhat dan belanja yang menamakan dirinya TBC. Jangan sangka kepanjangannya keren, seperti The Beauty and Charming atau The Bloody Caramel, soalnya dibaca te-be-ce dan bukannya ti-bi-si. TBC artinya Tak Butuh Cinta, langsung ngena kan? Sejauh ini, baru 4 wanita karir (Triana, Pamela, Lucia, Retna) yang "memilih" hidup tanpa pria, yang bergabung dengan cara unik, masing-masing punya perjalanan cinta yang unik, dan persahabatan yang terjalin juga unik.

Well, kalau mau jujur, sampai 3 minggu yang lalu sih. Setelah mencari pencerahan sana sini, dan yang paling penting nih: rasanya nggak mampu lagi menghindar dari PARA BETINA PEMBURU TRIANA itu, jadinya hari ini aku memutuskan untuk memberanikan diri "menghadap" dan masuk dalam lingkaran TBC sebagai pengkhianat. Hiks.

Rio, makhluk itu yang membuatku luluh dan bersembunyi dari TBC. Gara-gara facebook, aku ketemu Rio, mantan jaman SMA. Cute-nya nggak berubah, sikap baiknya juga. Meskipun berikrar bersama Pamela, Lucia, dan Retna bahwa aku Tak Butuh Cinta, aku tetap tak mampu menolak kehadiran Rio. Rio datang tanpa menawarkan cinta, tetapi pengertian seorang sahabat. Mungkin itulah yang membuat aku tidak memasang tembok yang tinggi untuk Rio melangkah masuk ke hatiku.

Sebulan yang lalu, aku kopdar dengan Rio. Klop ngobrol dan punya visi yang sama, nggak ada salahnya dong mulai berbisnis. Tapi pertemuan pertama setelah terpisah bertahun-tahun itu, jadi momen lamar melamar. Argggh... mantapnya, bukan hanya Rio sendiri! Bersama orang tuanya dan orang tuaku. How come? That's Rio, selalu mendapatkan yang dia inginkan dengan cara halus yang tak terelakkan.

Jadi, bagaimana aku dapat menolak? Dan sekarang: bagaimana cara menjelaskan ke TBC? Tanpa strategi dan keyakinan lolos dari maut, aku menjadi pelaku slogan Nike: just do it! Tentu saja yang jadi penguat terbesarku adalah Rio, tanpa takut dan ragu Rio akan menemaniku berterusterang pada TBC. Penting nggak penting sih, secara apa pentingnya aku menikah ijin dulu dengan TBC? Mungkin karena terlalu lama kami bersama, 5 tahun bukan rentang waktu yang sekejap mata kan? Jadi, restu TBC sama pentingnya dengan restu kedua orang tua bagiku.

Lalu apa yang terjadi? Rio adalah cinta bertepuk sebelah tangan Ci Pamela. Rio adalah dewa penolong, sepupu mantan suaminya yang membantunya saat tak berdaya, tetapi menolak cintanya. Bukannya tambah menghalangiku, Ci Pamela malah menjadi pembelot yang membelaku.

Seminggu kemudian, Mbak Retna menyatakan dukungannya. Mungkin sudah jalannya Tuhan kalau orang tua Mbak Retna diselamatkan melalui operasi yang dilakukan Rio. Menurut Mbak Retna, semua itu dilakukannya sebagai balas budi untuk Rio, agar Rio bahagia menikahiku. Tetapi buatku, Mbak Retna masih bimbang antara ya dan tidak. Pasalnya, aku adalah penggobar semangat TBC bagi Mbak Retna, sehingga kenyataan ini tidak mudah dia terima. Aku tak bilang apa-apa lagi selain terima-kasih kepada Mbak Retna.

Lucia? Sekarang giliran si cantik kloningan Lady Gaga itu yang menghilang. Berempat: aku, Rio, Pamela, dan Retna beralih pembahasan hangat tentang pernikahanku ke alasan menghilangnya Lucia. Aksi kami udah kayak tim Termehek-Mehek, ngubek-ngubek semua kenalan dan keluarga yang bisa ditanyain. 1 hari yang melelahkan, hasilnya nihil.

Di tengah keputusasaan kami, Lucia datang. Dan coba tebak??? Dia tak datang sendiri! Yang berada dalam gandengannya adalah seorang gadis cantik, yang tampak sangat anggun sekaligus amat rapuh. Melongo, letih, dan kelaparan, tak ada dari kami yang ingin marah-marah. Lucia dan Anne menjelaskan semuanya bergantian. Mereka adalah pasangan lesbi bahagia, yang terpisah jarak. Anne baru menyelesaikan proyeknya di Jepang (ternyata dia seorang arsitek) dan berencana berhenti dari kesibukannya, lalu membuka usaha butik bersama Lucia di Jakarta, juga membesarkan seorang lima orang anak adopsi sekaligus. Jadi, inilah sahabat dunia maya yang senasib dengan kami yang Lucia sering dia bicarakan!

Ketegangan yang memuncak terpecah oleh bunyi telpon Rio. Darurat, Rio harus melakukan operasi. Anne merasa kelelahan dan memutuskan untuk pulang duluan. Tinggallah kami berempat, berpelukan dan membubarkan TBC. Semua akan hadir di pernikahanku, peresmian butik Lucia, syukuran sebelum Retna dan orangtuanya naik haji, dan tentunya pesta ulang tahun Amy, putri semata wayang yang mulai tahun ajaran baru akan tinggal bersama Pamela. Persahabatan unik itu tetap terjalin kini, dengan cara yang berbeda.

"Ngomong-ngomong sindikat kita bisa ganti nama kok! TBC = Tlalu Butuh Cinta!" celetuk Lucia yang sedang berbunga-bunga. Hahaha... tanpa sindikat-sindikatan juga aku terlalu butuh cinta mereka!


-tamat-

Januari 50 K (2012)

DEAL? Hahaha... seolah-olah ada Tantowi yang lagi nanya!
Well, kenapa nggak memberikan kesempatan pada diri sendiri sih???
______
J50K. Nulis 50.000 kata di bulan Januari. Perlu cari tau dulu berapa tebel hasil cetakannya kalau 50.000 kata? Perlu ngetes berapa lama dulu ngetik seharinya? Ngapain itungin output dan komponen yang dibutuhkan kalau ragu nggak bisa? Kalau beneran nggak bisa, yaaaaa paling nggak pengen liat kemampuan sendiri dulu, bisanya seberapa.

Yang paling menyenangkan: banyak yang ikut partisipasi dalam kegiatan maya ini (sudah 30 peserta), sooo... ada teman senasib, teman berbagi cerita, intinya kamuh-tidak-sendiri yang membangkitkan semangatkuw! ;)
______
Angel Olivica, nama pena gitu sih. Pertama kali kepikiran karena desakan Titoeyt Cherry (Nurhastuty K.) semasa kuliah (range tahun 2004-2008, lupa persisnya). Dua orang yang tampak sangat beda, tetapi satu cita-cita, jadi penulis!

Kalau memang percaya, semua terjadi indah pada waktunya. Tuhan pasti buka jalan, jalani saja apa yang terbentang. Setelah vakum bertahun-tahun, now here am I, standing as Angel Olivica!
______
Let's relax for J50K! Don't be scared!